
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN.................................................................................................
1.1 Latar
Belakang............................................................................................
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan..........................................................................................
BAB II
PEMBAHASAN...................................................................................................
2.1 Pengertian
Syirik.........................................................................................
2.2 Pembagian Syirik..........................................................................................
2.3 Akibat
Perbuatan Syirik.................................................................................
2.4 Hikmah
Menjauhi Perbuatan Syirik................................................................
BAB III
PENUTUP............................................................................................................
KESIMPULAN
DAFTAR
PUSTAKA...............................................................................................
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Wr. Wb
Alhamdulillah
segala puji syukur kepada ALLAH SWT, atas segala rahmaddan hidayah-Nya serta
karunia-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Sholawat dan salam semoga tercurahkan atas Rasulallah Nabi Muhammad SAW,
keluarga para sahabat dan pengikutnya yang setiahinggaakhir Zaman. Dengan selesainya makalah ini diharapkan para
mahasiswa dapatmemahami secara ringkas dan mendalam tentang isi makalah ini.
Mudah-mudahan makalah ini dapat dijadikan referensi bagi para siswa/i hingga kelak dapat benar mengenal.
Kemudian kami
menyadari bahwa selama penulisan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan
banyak pihak baik secara langsung maupun tidak langsung memberikan arahan, ide,
dan saran. Semoga segala kebaikan yang diterima menjadi berkat tersendiri bagi
penulis,sehingga menjadi bekal yang sangat bermanfaat dikehidupan penulis
nantinya. Akhir kata apa yang telah penulis lakukan dapat bermanfaat bagi
seluruh pembaca dan pihak-pihak yang membutuhkan, kritik dan saran yang
membangun penulis terima untuk menyempurnakan dimasa mendatang.
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb
Bajubang, 04 Oktober 2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada waktu SMA/MA mungkin kita telah mempelajari Aqidah akhlak atau
pelajaran Agama Islam khususnya tentang syirik. Seperti yang kita ketahui
syirik merupakan hal yang dibenci oleh Allah karena perbuatan ini
mempersekutukan adanya Allah dengan cara mempercayai sesuatu yang lain selain dari
Allah swt.
Dalam kehidupan sehari-hari pun kita telah banyak menemukan orang-orang
yang mempersekutukan Allah. Seperti halnya seseorang yang meminta sesuatu ke
kuburan, pohon, gunung, hewan, dan juga mempercayai sesuatu hal selain Allah
(mempercayai ramalan-ramalan, saran-saran yang diberikan orang terhadap kita
yang tidak mendasar dari ajaran-ajaran Allah.
Karena itu, barangsiapa menyembah selain Allah berarti ia meletakkan
ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak, dan itu
merupakan kezhaliman yang paling besar.
1.2 Rumusan Masalah
1) Apa pengertian dari syirik?
2) Dalil apa saja yang
bersangkutan dengan materi syirik tersebut?
3) Apa sajakah macam macam
syirik?
4) Dibagi menjadi berapa
kategori kah syirik itu?
5) Apa contoh perilaku orang
yang berbuat syirik?
6) Apa akibat perbuatan syirik?
7) Apa hikmah menghindari
perbuatan syirik?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini selain untuk memenuhi salah
satu tugas mata kuliah Aqidah Akhlak tetapi juga untuk memberikan informasi dan
pengetahuan kepada pembaca mengenai pengerrtian dari syirik, macam macam dan
pembagian syirik itu sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Syirik
Syirik dari segi bahasa artinya mempersekutukan, secara istilah adalah
perbuatan yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Orang yang
melakukan syirik disebut musyrik. Seorang musyrik melakukan suatu perbuatan
terhadap makhluk (manusia maupun benda) yang seharusnya perbuatan itu hanya
ditujukan kepada Allah seperti menuhankan sesuatu selain Allah dengan
menyembahnya, meminta pertolongan kepadanya, menaatinya, atau melakukan
perbuatan lain yang tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah SWT.
Perbuatan syirik termasuk dosa besar. Allah mengampuni semua dosa yang
dilakukan hambanya, kecuali dosa besar seperti syirik. Firman Allah SWT:
a) QS Luqman (31):13
Artinya: “Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi
pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
sesungguhnya mempersekutukan adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
b) QS Al Maidah (5):72
Artinya: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:
“Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih berkata:
“Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan
tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang
penolongpun.”
c) QS Al-An’am (6):88
Artinya: “Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk
kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka
mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka
kerjakan.”
d) QS Az-Zumar (39):65
Artinya: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada yang
sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan, niscaya akan hapuslah amalmu dan
tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
e) QS At-Taubah (9):5
Artinya: “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah
orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah
mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka
bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan
kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha
Penyayang.”
f) QS. An-Nisaa’ : 48
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah
berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisaa’:
48)
Adapun hadist yang menyebutkan dan memperkuat adanya dalil-dalil di atas
:
Hadist riwayat Al-Bukhari dan Muslim:
“Maukah kalian aku beritahukan
tentang dosa yang paling besar?, ‘Kami menjawab: Ya, wahai Rasulullah!’, Beliau
bersabda, Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.”
2.2 Pembagian Syirik
Pembagian syirik ada berbagai macam tergantung dikelompokkan pada
kelompok yang mana.
2.2.1 Syirik yang Terkait dengan Kekhususan Allah Ta’ala
a. Syirik di dalam Rububiyyah
Yaitu jika seseorang meyakini bahwa ada selain Allah yang bisa
menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan, dan yang lainnya dari
sifat-sifat ar-rububiyyah. Orang-orang seperti ini keadaannya lebih sesat dan
lebih jelek daripada orang-orang kafir terdahulu.
Orang-orang terdahulu beriman dengan tauhid rububiyyah namun mereka
menyekutukan Allah dalam uluhiyyah. Mereka meyakini kalau Allah satu-satunya
Pencipta alam semesta namun mereka masih tetap berdoa, meminta pada
kuburan-kuburan seperti kuburan Latta.
Sebagaimana Allah kisahkan tentang mereka:
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى
يُؤْفَكُونَ
Dan
sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang menjadikan
langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab
: “Allah.” Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).
(QS. Al Ankabut : 61)
Firman
Allah Ta’ala:
وَلَئِن
سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِن
بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ
لَا يَعْقِلُونَ
Dan
sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka : “Siapakah yang menurunkan air
dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu
mereka akan menjawab : “Allah.” Katakanlah : “Segala puji bagi Allah.” Tetapi
kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (QS. Al Ankabut : 63)
Firman
Allah Ta’ala:
وَلَئِن
سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Dan
sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang menciptakan
langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab : “Allah.” Katakanlah : “Segala
puji bagi Allah.” Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. (QS. Luqman :
25)
Firman
Allah Ta’ala:
وَلَئِن
سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ
الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ
Dan
sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang menciptakan langit
dan bumi?” Niscaya mereka akan menjawab : “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha
Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Az Zukhruf : 9)
Ayat-ayat
ini semua menunjukkan kalau orang-orang musyrik terdahulu mengakui Allah-lah
satu-satunya pencipta yang menciptakan langit dan bumi, yang menghidupkan dan
mematikan, yang menurunkan hujan dan seterusnya. Akan tetapi mereka masih memberikan
peribadatan kepada yang lainnya. Maka bagaimanakah dengan orang-orang yang
tidak menyakini sama sekali kalau Allah-lah Penciptanya atau ada tuhan lain
yang menciptakan, menghidupkan, dan mematikan, yang menurunkan hujan dan
seterusnya atau ada yang serupa dengan Allah dalam masalah-masalah ini. Tentu
yang demikian lebih jelek lagi. Inilah yang dimaksud syirik dalam rububiyah.
b.
Syirik di dalam Uluhiyyah
Yaitu
kalau seseorang menyakini bahwa ada tuhan selain Allah yang berhak untuk
disembah (berhak mendapatkan sifat-sifat ubudiyyah). Yang mana Allah Subhanahu
wa Ta’ala dalam berbagai tempat dalam Kitab-Nya menyeru kepada hamba-Nya agar
tidak menyembah atau beribadah kecuali hanya kepada-Nya saja. Firman Allah
Ta’ala :
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن
قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً
وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ
الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ
تَعْلَمُونَ
“Wahai
manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang
sebelummu agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan
bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit lalu
Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu
karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu
mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah : 21-22)
c.
Syirik di dalam Asma’ wa Sifat
Yaitu
kalau seseorang mensifatkan sebagian makhluk Allah dengan sebagian sifat-sifat
Allah yang khusus bagi-Nya. Contohnya, menyakini bahwa ada makhluk Allah yang
mengetahui perkara-perkara ghaib.
Firman
Allah Ta’ala:
عَالِمُ
الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا
“(Dia
adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada
seorang pun tentang yang ghaib itu.“ (QS. Al Jin : 26)
2.2.2.
Syirik Menurut Kadarnya
a.
Syirik Akbar (besar)
Syirik
akbar merupakan syirik yang tidak akan mendapat ampunan Allah. Syirik akbar
dibagi menjadi dua, yang pertama yaitu Zahirun Jali (tampak nyata), yakni
perbuatan kepada tuhan-tuhan selain Allah atau baik tuhan yang berbentuk
berhala, binatang, bulan, matahari, batu, gunung, pohon besar, sapi, ular,
manusia dan sebagainya. Demikian pula menyembah makhluk-makhluk ghaib seperti
setan, jin dan malaikat.
Yang
kedua yaitu syirik akbar Bathinun Khafi (tersembunyi) seperti meminta
pertolongan kepada orang yang telah meninggal. Setiap orang yang menaati
makhluk lain serta mengikuti selain dari apa yang telah disyariatkan oleh Allah
dan Rasul-Nya, berarti telah terjerumus kedalam lembah kemusyrikan. Firman
Allah SWT:
Artinya:
“…dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang
yang musyrik.” (QS. Al-An’am: 121).
Adapun
contoh-contoh dari syirik akbar (besar)
1) Syirik dalam berdoa
Adalah
merendahkan diri kepada selain Allah dengan tujuan untuk istighatsah dan
isti’anah kepada selain-Nya.
QS
Al-Ankabut (29):65
Artinya:
“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan
keta’atan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat,
tiba-tiba mereka mempersekutukan.”
2) Syirik dalam niat, kehendak dan maksud
Adalah
manakala melakukan ibadah tersebut semata-mata ingin dilihat orang atau untuk
kepentingan dunia semata.
QS
Huud (11): 15-16
Artinya:
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami
berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan
mereka di dunia itu tidak akan dirugikan(15). Itulah orang-orang yang tidak
memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang
telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka
kerjakan(16).”
3) Syirik dalam keta’atan
Yaitu
menjadikan sesuatu sebagai pembuat syariat selain Allah Subhanahu wa Ta’ala
atau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah dalam menjalankan syariat dan
ridho atas hukum tersebut.
QS
At-Taubah (9): 31
Artinya:
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan
selain Allah dan Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah
Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang
mereka persekutukan.”
4) Syirik dalam kecintaan
Adalah
mengambil makhluk sebagai tandingan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Menyetarakan kecintaan makhluk dengan Allah.
b.
Syirik Ashghar (kecil)
Syirik
asghar termasuk perbuatan dosa besar, akan tetapi masih ada peluang diampuni
Allah jika pelakunya segera bertobat. Seorang pelaku syirik asghar
dikhawatirkan akan meninggal dunia dalam keadaan kufur jika ia tidak segera
bertaubat. Adapun contoh-contoh dari syirik Ashghar (kecil):
1) Ar Riya’
(mengamalkan
suatu ibadah supaya dilihat manusia dalam rangka mendapatkan popularitas).
Meskipun syirik ini tidak membatalkan semua amalan secara keseluruhan namun ia
membatalkan amalan yang diniatkan untuk manusia tersebut. Maka wajib bagi
pelakunya untuk bertaubat. Firman Allah yang menerangkan bahwa riya’ itu
membatalkan amalan yang disertai riya’ tersebut adalah sebagai berikut:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى
كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ
الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ
فَتَرَكَهُ صَلْدًا لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ
يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) seperti orang
yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di
atasnya ada tanah kemudian batu itu ditimpa hujan lebat lalu menjadilah dia
bersih (tidak bertanah). Mereka tidak berkuasa sedikit pun dari apa yang mereka
usahakan dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS.
Al Baqarah : 264)
Sabda
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : Diriwayatkan dari Mahmud bin Labid
bahwa dia berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata:
إنَّ
أَخْوَفُ مَا أَخَا فُ عَلَيكْمُ الشِّرْكُ اْلأَ صْغَر. قالوُا وَمَا الشِّرْكُ
اْلأَ صْغَرُ يَا رَسُوْلُ الله ؟ قال الرِّيَاءُ “.يقول الله تعالى يوم القيامة
إذا جازى الناس بأعمالهم اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤون في الدنيا فانظروا هل تجدون
جزاء
“Sesungguhnya
yang paling kutakutkan dari perkara yang aku takutkan atas kalian ialah syirik
kecil. Para shahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu wahai rasulullah?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Riya’, Pada hari kiamat,
ketika membalas amalan-amalan manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan
berfirman: “Pergilah kepada orang yang kamu dahulu sewaktu di dunia berbuat
riya’ kepadanya, dan lihatlah apakah kamu dapakan balasan (pahala) darinya?
“(HR. Ahmad, At-Thabrani dan Al-Baihaqi)
Dan
juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: Dari Abu Hurairah
radhiyallahu anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Allah
Ta’ala berfirman:
أنا
أغنى الشركاء عن الشرك,من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه
“Aku
adalah sekutu yang paling tidak membutuhkan sekutunya, barang siapa beramal,
dan menyekutukan Aku dengan selain-Ku di dalam amalan tersebut maka Aku
tinggalkan dia dan sekutunya” (HR. Muslim)
Dalam
masalah membatalkan amalan, riya’ ini terbagi menjadi dua bagian:
1) Apabila riya’ sejak awal, yaitu bahwa orang
tersebut dalam melakukan amalannya sudah mempunyai niat untuk riya’. Yang
seperti ini membatalkan amalan.
2) Apabila datang dengan tiba-tiba di
tengah-tengah atau di akhir amalan dan orang tersebut berusaha untuk menolak
atau menghilangkan dari hatinya. Maka yang seperti ini tidak sampai membatalkan
amalannya.
2)
Sum’ah
(mengamalkan
suatu ibadah supaya didengar orang lain dalam rangka mendapatkan
popularitas).Pada hakekatnya sum’ah merupakan riya’ juga. Dua penyakit ini yang
sangat rawan dalam hati karena sangat samar tidak terlihat oleh mata sehingga
seorang Muslim harus sangat berhati-hati. Ayat Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah
264 serta hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari shahabat Mahmud
bin Labid di atas menjadi perhatian bagi kita bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
memanggil dengan panggilan ‘Wahai orang-orang yang beriman’ dan Rasulullah
mengkhawatirkan riya’ tersebut akan menimpa para shahabat. Hal ini menunjukkan
bahwa orang Mukmin pun apabila tidak hati-hati akan terkena penyakit ini.
Mudah-mudahan Allah selamatkan kita darinya. Adapun Firman Allah Ta’ala:
وَسَارِعُواْ
إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ
أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada Surga yang luasnya seluas
langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali
Imran : 133):
إِلَّا
مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ
سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Kecuali
orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal shalih maka kejahatan
mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqan : 70)
قُلْ
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن
رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah
: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Az-Zumar : 53)
c.
Syirik Khafi (tersembunyi)
Yaitu
seorang beramal dikarenakan keberadaan orang lain, hal ini pun termasuk riya’,
dan hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam sebagaimana anda
ketahui, namun pelakunya wajib bertaubat.
2.2.3.
Syirik Menurut Letak Terjadinya
a.
Syirik I’tiqodi
Syirik
yang berupa keyakinan, misalnya meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang
telah menciptakan kita dan memberi rizki pada kita namun di sisi lain juga
percaya bahwa dukun bisa mengubah takdir yang digariskan kepada kita. Hal ini
termasuk Syirik Akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam, kita
berlindung kepada Allah dari hal ini.
b.
Syirik Amali
Yaitu
setiap amalan fisik yang dinilai oleh syari’at islam sebagai sebuah kesyirikan,
seperti menyembelih untuk selain Allah, dan bernazar untuk selain Allah dan
lainnya.
c.
Syirik Lafzhi
Yaitu
setiap lafazh yang dihukumi oleh syari’at islam sebagai sebuah kesyirikan,
seperti bersumpah dengan selain nama Allah, seperti perkataan sebagian orang,
“Tidak ada bagiku kecuali Allah dan engkau”, dan “Aku bertawakal kepadamu”,
“Kalau bukan karena Allah dan si fulan maka akan begini dan begitu”, dan
lafazh-lafazh lainnya yang mengandung unsur kesyirikan.
Dengan
mengetahui beberapa kategori syirik diatas dapat membantu kita untuk
menghindarinya agar tidak terjatuh dalam kesyirikan dalam bentuk apapun dan
cara bagaimana pun. Semoga kita semua bisa terhindar dari syirik tersebut di
manapun dan kapan pun jua. Wallohu a’lam bishowab.
2.3
Akibat Perbuatan Syirik
Adapun
akibat negatif yang ditimbulkan dari syirik, antara lain:
1) Sulit menerima kebenaran.
Hati
orang-orang syirik tertutup untuk menerima kebenaran baik yang datangnya dari
Allah dan Rasul-Nya. Menurut Ibnu Jarir, ketertutupan hati orang syirik itu
lantaran dari sifat kesombongan dan penentangannya terhadap kebenaran yang
disampaikan kepadanya. Orang-orang syirik yang mendustakan ayat-ayat Allah
dideri peringatan atau tudak sama saja bagi mereka, karena hati mereka buta.
Firman Allah SWT:
“Allah
telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup,
dan mereka akan mendapat adzab yang berat.” (QS. Al-Baqarah: 7).
2) Munculnya perasaan bimbang dan ragu.
Menurut
pendapat Ibnu Abbas, penyakit hati orang syirik adalah perasaan bimbang dan
ragu (syak), kegoncangan batin seperti inilah yang menjadikan mereka merasa
gelisah. Hatinya tidak pernah tenang, merasa tidak puas dengan harta, jabatan
yang mereka miliki. Firman Allah SWT:
“Dalam
hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka
mendapat adzab yang pedih, karena mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 10).
3) Hanya akan memperoleh kesenangan sementara.
4) Amalan dan harta yang yang dinafkahkan
sia-sia.
Firman
Allah SWT :
“Perumpaan
harta yang mereka infakkan di dalam kehidupan dunia ini, ibarat angin yang
mengandung hawa sangat dingin yang menimpa tanaman (milik) suatu kaum yang
menzalimi diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menzalimi
mereka, tetapi mereka yang menzalimi diri sendiri.” (QS. Ali Imran: 117).
5) Orang musyrik dinilai sebagai makhluk
terburuk.
6) Menjadi musuh Allah. Perbuatan musyrik
menyebabkan murka Allah SWT, sebagaimana firman Allah:
Artinya:
“…..maka sesungguhnya Allah musuh bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah:
98).
7) Dijanjikan mendapat siksa neraka. Allah
menerangkan dalam firman-Nya:
“Pada
hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram.
Adapun orang-orang yang berwajah hitan muram (kepada mereka dikatakan), mengapa
kamu syirik setelah beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu
itu.” (QS. Ali Imran: 106).
2.4
Hikmah Menjauhi Perbuatan Syirik
1. Mengangkat manusia ke derajat paling tinggi
dan mulia.
2. Mengalirkan rasa kesederhanaan dan
kesahajaan.
3. Membuat manusia menjadi suci dan benar
4. Memunculkan kepercayaan yang teguh dalam
segala hal, tidak mempunyai hubungan khusus dengan siapapun atau apapun yang
menyebabkan rusaknya iman.
5. Tidak mudah putua asa dengan keadaan yang
dihadapi.
6. Menumbuhkan keberanian dalam diri manusia.
Dalam hubungan ini ada dua hal yang membuat manusia menjadi pengecut, yaitu
takut mati, dan pemikiran yang menyatakan bahwa ada orang lain selain Allah
yang dapat mencabut nyawanya.
7. Mengembangkan sikap cinta damai dan
keadilan, menghalau rasa cemburu, dengki, dan iri hati.
8. Menjadi taat dan patuh kepada hukum-hukum
Allah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Syirik
dari segi bahasa artinya mempersekutukan, secara istilah adalah perbuatan yang
mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Orang yang melakukan syirik
disebut musyrik. Seorang musyrik melakukan suatu perbuatan terhadap makhluk
(manusia maupun benda) yang seharusnya perbuatan itu hanya ditujukan kepada
Allah seperti menuhankan sesuatu selain Allah dengan menyembahnya, meminta
pertolongan kepadanya, menaatinya, atau melakukan perbuatan lain yang tidak
boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah SWT.Perbuatan syirik termasuk dosa
besar. Allah mengampuni semua dosa yang dilakukan hambanya, kecuali dosa besar
seperti syirik.
Syirik
adalah mensejajarkan selain Allah dengan Allah dalam hal–hal yang merupakan
kekhususan bagi Allah. Kekhususan Allah meliputi tiga hal rububiyah, uluhiyah,
dan asma’ dan sifat.
Dengan
demikian, dapat kami simpulkan, bahwa syirik itu terbagi atau tergolong kedalam
3 golongan. Yaitu, Syirik yang Terkait dengan Kekhususan Allah Ta’ala, Syirik
Menurut Kadarnya, dan Syirik Menurut Letak Terjadinya.
Daftar
Pustaka
http://muslimah.or.id/aqidah/macam-macam-syirik.html/comment-page-1
Subhani,
Ja’far. Tauhid Dan Syirik. Bandung: Mizan, 1996
Wahhab,
Muhammad Bin Abdul. Tegakkan Tauhid Tumbangkan Syirik. Yogyakarta: Mitra
Pustaka, 2000
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon