
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN ................................................................................................
1.1 Latar
Belakang............................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................
1.3 Tujuan Masalah ...........................................................................................
1.4 Manfaa t.......................................................................................................
BAB II
PEMBAHASAN ..................................................................................................
1. Pengertian Iman...........................................................................................
2. Wujud Iman ...................................................................................................
3.
Tanda-Tanda Orang Beriman ..........................................................................
4.
Pengertian Takwa ..........................................................................................
5. Koheresi
Keimanan dan Ketakwaan................................................................
BAB III
PENUTUP............................................................................................................
KESIMPULAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmatNya makalah
ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini kami
membahas “Keimanan dan Ketakwaan”.Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam
pemahaman mahasiswa mengenai keimanan dan ketakwaan serta
mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi semua kalangan khusus nya kepada para
maahasiswa di lingkungan STIE Kesatuan. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam
penyusunan makalah ini. Akhir kata, atas segala dkungan yang diberikan kami
mengucapka terima kasih kepada dosen pembimbing sehingga makalah ini disusun
dengan baik
Muara Bulian, Oktober 2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia dalam menjalani kehidupan
selalu berinteraksi dengan manusia lain atau dengan kata lain melakukan
interaksi sosial. Dalam melakukan interaksi sosial manusia harus memiliki
akhlak yang baik agar dalam proses interaksi tersebut tidak mengalami hambatan
atau masalah dengan manusia lain. Proses pembentuk akhlak sangat berperan
dengan masalah keimanan dan ketakwaan seseorang. Keimanan dan Ketakwaan
seseorang berbanding lurus dengan akhlak seseorang atau dengan kata lain
semakin baik keimanan dan ketakwaan seseorang maka semakin baik pula
akhlak seseorang hal ini karena keimanan dan ketakwaan adalah modal utama untuk
membentuk pribadi seseorang. Keimanan dan ketakwaan sebenarnya potensi yang ada
pada manusia sejak ia lahir dan melekat pada dirinya hanya saja sejalan dengan
pertumbuhan dan perkembangan seseorang yang telah terjamah oleh lingkungan
sekitarnya maka potensi tersebut akan semakin muncul atau sebaliknya
potensi itu akan hilang secara perlahan.
Saat ini keimanan dan ketakwaan
telah dianggap sebagai hal yang biasa, oleh masyarakat umum, bahkan ada yang
tidak mengetahui sama sekali arti yang sebenarnya dari keimanan dan ketakwaan
itu, hal ini dikarenakan manusia selalu menganggap remeh tentang hal itu dan
mengartikan keimanan itu hanya sebagai arti bahasa, tidak mencari makna yang
sebenarnya dari arti bahasa itu dan membiarkan hal tersebut berjalan
begitu saja. Oleh karena itu dari persoalan dan masalah-masalah yang
terpapar diataslah yang melatar belakangi kelompok kami untuk membahas dan
mendiskusikan tentang keimanan dan ketakwaan yang kami bukukan menjadi sebuah
makalah kelompok.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Apa pengertian iman?
2. Bagaimana wujud iman?
3. Bagaimana tanda-tanda orang yang
beriman?
4. Apa pengertian takwa?
5. Bagaimana korelasi antara keimanan
dan ketakwaan?
1.3 Tujuan Masalah
1.
Mendeskripsikan
pengertian iman
2.
Memaparkan
wujud iman
3.
Memaparkan
tanda-tanda orang yang beriman
4.
Mendeskripsikan
pengertian takwa
5.
Menjelaskan
korelasi antara keimanan dan ketakwaan
1.4 Manfaat
1.
Bagi
penulis : melatih potensi
penulis dalam menyusun makalah
2. Bagi pembaca
: dapat menambah pengetahuan tentang keimanan dan ketawaan serta
mengimplementasikannya dalam kehidupan
sehari-hari
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Iman
Iman menurut
bahasa adalah yakin, keimanan berarti keyakinan. Dengan demikian, rukun iman
adalah dasar, inti, atau pokok – pokok kepercayaan yang harus diyakini oleh
setiap pemeluk agama Islam. Kata iman juga berasal dari kata kerja amina-yu’manu
– amanan yang berarti percaya. Oleh karena itu iman berarti percaya menunjuk
sikap batin yang terletak dalam hati. Dalam surah al-Baqarah ayat 165 :
وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ
جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Artinya :
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang
menyembah tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada
Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui
ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan
Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka
menyesal).”
Dalam hadits
diriwayatkan Ibnu Majah Atthabrani, iman didefinisikan dengan keyakinan
dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan (Al-Immaanu
‘aqdun bil qalbi waigraarun billisaani wa’amalun bil arkaan). Dengan demikian,
iman merupakan kesatuan atau keselarasan antara hati, ucapan, dan laku
perbuatan, serta dapat juga dikatakan sebagai pandangan dan sikap hidup atau
gaya hidup.
Definisi Iman Secara Istilah Syar’iy
1) Al-Imaam Ismaa’iil bin Muhammad
At-Taimiy rahimahullah berkata :
الإيمان في
الشرع عبارة عن جميع الطاعات الباطنة والظاهرة
“Iman dalam
pengertian syar’iy adalah satu perkataan yang mencakup makna semua ketaatan lahir
dan batin” [Al-Hujjah fii Bayaanil-Mahajjah, 1/403].
An-Nawawiy
menukil perkataannya :
الإيمان في
لسان الشرع هو التصديق بالقلب والعمل بالأركان
“Iman dalam
istilah syar’iy adalah pembenaran dengan hati dan perbuatan dengan anggota
tubuh” [Syarh Shahih Muslim, 1/146].
2) Imaam Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah
berkata :
أجمع أهل
الفقه والحديث على أن الإيمان قول وعمل، ولا عمل إلا بنية
“Para ahli
fiqh dan hadits telah sepakat bahwasannya iman itu perkataan dan perbuatan. Dan
tidaklah ada perbuatan kecuali dengan niat” [At-Tamhiid, 9/238].
3) Al-Imaam Ibnul-Qayyim rahimahullah
berkata :
حقيقة
الإيمان مركبة من قول وعمل. والقول قسمان : قول القلب، وهو الاعتقاد، وقول اللسان،
وهو التكلّم بكلمة الإسلام. والعمل قسمان : عمل القلب، وهو نيته وإخلاصه، وعمل الجوارح.
فإذا زالت هذه الأربعة، زال الإيمان بكماله، وإذا زال تصديق القلب، لم تنفع بقية
الأجزاء
“Hakekat
iman terdiri dari perkataan dan perbuatan. Perkataan ada dua : perkataan hati,
yaitu i’tiqaad; dan perkataan lisan, yaitu perkataan tentang kalimat Islam
(mengikrarkan syahadat – Abul-Jauzaa’). Perbuatan juga ada dua : perbuatan
hati, yaitu niat dan keikhlasannya; dan perbuatan anggota badan. Apabila hilang
keempat hal tersebut, akan hilang iman dengan kesempurnaannya. Dan apabila
hilang pembenaran (tashdiiq) dalam hati, tidak akan bermanfaat tiga hal yang
lainnya” [Ash-Shalaah wa Hukmu Taarikihaa, hal. 35].
Jadi, dapat
disimpulkan bahwa pengertian iman adalah pembenaran dengan segala keyakinan
tanpa keraguan sedikitpun mengenai yang datang dari Allah SWT dan rasulNya.
2. Wujud Iman
Akidah Islam dalam al-Qur’an disebut
iman. Iman bukan hanya berarti percaya, melainkan keyakinan yang mendorong
seorang muslim untuk berbuat. Oleh karena itu lapangan iman sangat luas, bahkan
mencakup segala sesuatu yang dilakukan seorang muslim yang disebut amal saleh.
Seseorang dinyatakan iman bukan
hanya percaya terhadap sesuatu, melainkan kepercayaan itu mendorongnya untuk
mengucapkan dan melakukan sesuatu sesuai dengan keyakinan. Karena itu iman
bukan hanya dipercayai atau diucapkan, melainkan menyatu secara utuh dalam diri
seseorang yang dibuktikan dalam perbuatannya.
Akidah Islam adalah bagian yang
paling pokok dalam agama Islam. Ia merupakan keyakinan yang menjadi dasar dari
segala sesuatu tindakan atau amal. Seseorang dipandang sebagai muslim atau
bukan muslim tergantung pada akidahnya. Apabila ia berakidah Islam, maka segala
sesuatu yang dilakukannya akan bernilai sebagai amaliah seorang muslim atau
amal saleh. Apabila tidak beraqidah, maka segala amalnya tidak memiliki arti
apa-apa, kendatipun perbuatan yang dilakukan bernilai dalam pendengaran
manusia.
Akidah Islam atau iman mengikat
seorang muslim, sehingga ia terikat dengan segala aturan hukum yang datang dari
Islam. Oleh karena itu menjadi seorang muslim berarti meyakini dan melaksanakan
segala sesuatu yang diatur dalam ajaran Islam. Seluruh hidupnya didasarkan pada
ajaran Islam.
Wujud Iman menurut Hasan Al-Bana di antaranya:
1. Ilahiyah
: Hubungan dengan Allah
2. Nubuwwah :
Kaitan dengan Nabi, Rasul, kitab, dan mukjizat
3. Ruhaniyah
: Kaitan dengan alam metafisik; Malaikat, Jin, Syetan, Ruh
4. Sam’iyah
: Segala sesuatu yang bisa diketahui melalui sam’i
3. Tanda – Tanda Orang beriman
Al-Qur’an menjelaskan tanda-tanda orang
yang beriman sebagai berikut:
1. Jika disebut
nama Allah, maka hatinya bergetar dan berusaha agar ilmu Allah tidak lepas dari
syaraf memorinya, serta jika dibacakan ayat al-Qur’an, maka
bergejolak hatinya untuk segera melaksanakannya (al-Anfal: 2).
"Sesungguhnya
orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah
hati mereka. dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(yaitu) orang-orang
yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami
berikan kepada mereka
2. Senantiasa
tawakal, yaitu bekerja keras berdasarkan kerangka ilmu Allah, diiringi dengan
doa, yaitu harapan untuk tetap hidup dengan ajaran Allah menurut Sunnah Rasul (Ali
Imran: 120
al-Maidah: 12
[5:12] Dan sesungguhnya Allah
telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara
mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta
kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta
beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada
Allah pinjaman yang baik {406} sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu.
Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air
didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah
itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.
|
at-Taubah: 52
[9:52] Katakanlah: "tidak
ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan
{646}. Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan
kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya
kami menunggu-nunggu bersamamu."
|
Ibrahim: 11
[14:11] Rasul-rasul mereka
berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu,
akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara
hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada
kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya
orang-orang mukmin bertawakkal.
|
Mujadalah: 10
[58:10] Sesungguhnya pembicaraan
rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka
cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka,
kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang
beriman bertawakkal.
|
3. Tertib dalam
melaksanakan shalat dan selalu menjaga pelaksanaannya
al-Anfal: 3
Itulah orang-orang yang beriman dengan
sebenar-benarnya
Bagaimanapun sibuknya, kalau sudah masuk waktu
shalat, dia segera shalat untuk membina kualitas imannya.
4. Menafkahkan rezki yang diterimanya (al-Anfal: 3 dan
al-Mukminun:4). Hal ini dilakukan sebagai suatu kesadaran bahwa harta yang
dinafkahkan di jalan Allah merupakan upaya pemerataan ekonomi, agar tidak
terjadi ketimpangan antara yang kaya dengan yang miskin.
5. Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat dan
menjaga kehormatan (al-Mukminun: 3,5). Perkataan yang bermanfaat atau
yang baik adalah yang berstandar ilmu Allah, yaitu al-Qur’an menurut Sunnah
Rasulullah.
6. Memelihara amanah dan menepati janji (al-Mukminun:
6). Seorang mu’min tidak akan berkhianat dan dia akan selalu memegang amanah
dan menepati janji.
7. Berjihad di jalan Allah dan suka menolong
(al-Anfal:74). Berjihad di jalan Allah adalah bersungguh-sungguh dalam
menegakkan ajaran Allah, baik dengan harta benda yang dimiliki maupun dengan
nyawa.
8. Tidak meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin
(an-Nur: 62). Sikap seperti itu merupakan salah satu sikap hidup seorang
mukmin, orang yang berpandangan dengan ajaran Allah menurut Sunnah Rasul.
4. Pengertian Takwa
Suatu hari, seorang sahabat bertanya
kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w. tentang apa itu
taqwa. Beliau menjelaskan bahwa taqwa itu adalah :
1.
Takut
(kepada Allah) yang diiringi rasa cinta, bukan takut karena adanya neraka.
2.
Beramal
dengan Alquran yaitu bagaimana Alquran menjadi pedoman dalam kehidupan
sehari-hari seorang manusia.
3.
Redha dengan
yang sedikit, ini berkaitan dengan rezeki. Bila mendapat rezeki yang banyak,
siapa pun akan redha tapi bagaimana bila sedikit? Yang perlu disedari adalah
bahawa rezeki tidak semata-mata yang berwujud uang atau materi.
4.
Orang yg
menyiapkan diri untuk “perjalanan panjang”, maksudnya adalah hidup sesudah
mati.
Al- Hasan Al-Bashri menyatakan
bahwa taqwa adalah takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah, dan
menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah. Taqwa juga bererti kewaspadaan,
menjaga benar-benar perintah dan menjauhi larangan.
5.
Koheresi
Keimanan dan Ketakwaan
Keimanan pada keesaan Allah yang
dikenal dengan istilah tauhid dibagi menjadi dua, yaitu tauhid teoritis dan tauhid
praktis. Tauhid teoritis adalah tauhid yang membahas tentang keesaan Zat,
keesaan Sifat, dan keesaaan Perbuatan Tuhan. Pembahasan keesaan Zat, Sifat, dan
Perbuatan Tuhan berkaitan dengan kepercayaan, pengetahuan, persepsi, dan
pemikiran atau konsep tentang Tuhan. Konsekuensi logis tauhid teoritis adalah
pengakuan yang ikhlas bahwa Allah adalah satu-satunya Wujud Mutlak, yang
menjadi sumber semua wujud.
Adapun tauhid praktis yang disebut
juga tauhid ibadah, berhubungan dengan amal ibadah manusia. Tauhid praktis
merupakan terapan dari tauhid teoritis. Kalimat Laa ilaaha illallah (Tidak ada
Tuhan selain Allah) lebih menekankan pengertian tauhid praktis (tauhid ibadah).
Tauhid ibadah adalah ketaatan hanya kepada Allah. Dengan kata lain, tidak ada
yang disembah selain Allah, atau yang berhak disembah hanyalah Allah semata dan
menjadikan-Nya tempat tumpuan hati dan tujuan segala gerak dan langkah.
Selama ini pemahaman tentang tauhid
hanyalah dalam pengertian beriman kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
Mempercayai saja keesaan Zat, Sifat, dan Perbuatan Tuhan, tanpa mengucapkan
dengan lisan serta tanpa mengamalkan dengan perbuatan, tidak dapat dikatakan
seorang yang sudah bertauhid secara sempurna. Dalam pandangan Islam, yang
dimaksud dengan tauhid yang sempurna adalah tauhid yang tercermin dalam ibadah
dan dalam perbuatan praktis kehidupan manusia sehari-hari. Dengan kata lain,
harus ada kesatuan dan keharmonisan tauhid teoritis dan tauhid praktis dalam
diri dan dalam kehidupan sehari-hari secara murni dan konsekuen.
Dalam menegakkan tauhid, seseorang harus menyatukan
iman dan amal, konsep dan pelaksanaan, fikiran dan perbuatan, serta teks dan
konteks. Dengan demikian bertauhid adalah mengesakan Tuhan dalam pengertian
yakin dan percaya kepada Allah melalui pikiran, membenarkan dalam hati,
mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan. Oleh karena itu
seseorang baru dinyatakan beriman dan bertakwa, apabila sudah mengucapkan
kalimat tauhid dalam syahadat asyhadu allaa ilaaha illa Alah, (Aku
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah), kemudian diikuti dengan
mengamalkan semua perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Iman adalah adalah pembenaran dengan
segala keyakinan tanpa keraguan sedikitpun mengenai yang datang dari Allah SWT
dan rasulNya.
Wujud Iman ada 4, yakni:
1)
Ilahiyah:
Hubungan dengan Allah
2)
Nubuwwah:
Kaitan dengan Nabi, Rasul, kitab, dan mukjizat
3)
Ruhaniyah:
Kaitan dengan alam metafisik; Malaikat, Jin, Syetan, Ruh
4)
Sam’iyah:
Segala sesuatu yang bisa diketahui melalui sam’i
Tanda-tanda orang yang beriman
sebagai berikut:
1.
Jika disebut
nama Allah, maka hatinya bergetar dan berusaha agar ilmu Allah tidak lepas dari
syaraf memorinya, serta jika dibacakan ayat al-Qur’an, maka bergejolak hatinya
untuk segera melaksanakannya.
2.
Senantiasa
tawakal
3.
Tertib dalam
melaksanakan shalat dan selalu menjaga
4.
Menafkahkan
rezki yang diterimanya
5.
Menghindari
perkataan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan
6.
Memelihara
amanah dan menepati janji
7.
Berjihad di
jalan Allah dan suka menolong
8.
Tidak
meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin
Taqwa adalah takut dan menghindari
apa yang diharamkan Allah, dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah.
Taqwa juga bererti kewaspadaan, menjaga benar-benar perintah dan menjauhi
larangan.
Seseorang baru dinyatakan beriman
dan bertakwa, apabila sudah mengucapkan kalimat tauhid dalam syahadat asyhadu
allaa ilaaha illa Alah, (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah),
kemudian diikuti dengan mengamalkan semua perintah Allah dan meninggalkan
segala larangan-Nya.
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon